My Hosting Journey (Review)
Maaf aku buat judulnya bahasa Inggris, soalnya gak menemukan padanan kata yang tepat kalau menggunakan Bahasa. ![]()
Artikel ini hanya curahan hatiku yang selama aktif di dunia maya dan dunia website baru kali ini mendapat pengalaman baru lagi, yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sewaktu dulu memiliki domain pertama kalinya.
Oke, langsung aja, dulu aku hosting pertama sekali di RevTI.com, waktu itu tahun 2005, sungguh penasaran dengan HTML, JavaScript, dan CSS.
Akhirnya karena satu dua hal aku pindah ke WHPlus.com, di sinilah pertama sekali aku menempatkan semua file situs Malau.Net. Nah, secara tidak sadar ternyata situs Malau.Net semakin hari semakin bertambah pengunjungnya… akhirnya Bandwidth Limit Exceeded, situs pun mati beberapa hari menunggu sampai akhir bulan dan mengulangi siklus lagi dari awal. Kejadian ini terjadi dua atau tiga kali… akhirnya ambil keputusan untuk pindah lagi…
Kali ini aku terpana dengan promosi Unlimited Bandwidth dari NICSpace.com. Yah memang bukan nasibku untuk hosting di sana berlama-lama. Ternyata pihak NICSpace tidak menjelaskan di awal bahwa server mereka dipenuhi berbagai keterbatasan di tengah ketidakterbatasan yang selalu dipromosikannya di Google AdWords.
Saranku, jangan mudah percaya dengan apa yang dipromosikan di media iklan, lebih baik mencari langsung review hosting yang bersangkutan, inilah yang aku pelajari dari sini. Pengalaman yang sangat berharga!
Intinya, dalam kasusku, situs Malau.Net mencapai batas maksimum MySQL Query untuk database wordpress yang aku gunakan, bagi yang belum mengerti apa itu MySQL dan MySQL Query, silahkan mampir ke Bang Google. ![]()
Kejadian sebelumnya kembali terulang, malah lebih parah. Masih di pertengahan bulan, e.do.do.e… situs langsung matek dan tidak bisa diakses sama sekali. Kembali lagi, TIDAK ADA PILIHAN LAIN selain pindah hosting.
Nah kesal dengan pengalaman beberapa hosting Indonesia yang sudah aku pakai jasanya, akhirnya aku pindah ke hosting luar negeri, yang sepertinya lebih handal, walaupun lebih mahal sedikit. Pilihan pun jatuh ke DreamHost. Sebulan, dua bulan, hampir setahun aku tidak pernah bermasalah dengan mereka, situs tetap online, tidak ada masalah MySQL Query. Setelah hampir setahun itu, akhirnya pengunjung situs Malau.Net tidak terbendung lagi, dan timbul masalah baru, CPU Time. CPU Time adalah satuan waktu dari CPU (processor) yang digunakan oleh suatu aplikasi, dalam hal ini aplikasi website, misalnya PHP, image processing, MySQL query, dll.
Dari sini aku belajar untuk optimasi wordpress agar tidak terlalu banyak menggunakan CPU Time. Jalan keluarnya adalah dengan menggunakan plugin WP-Cache atau WP Super Cache. Sebulan pertama setelah masalah itu timbul, kembali lagi dapat peringatan dari admin Dreamhost. Luluh lantak lah semua rencana. TIDAK ADA PILIHAN LAIN selain pindah hosting khusus untuk situs Malau.Net, yang banyak menghabiskan resource CPU.
Setelah membaca review hosting di sana-sini, akhirnya pilihan jatuh ke MediaTemple.net. Walaupun harganya dua kali lipat lebih dari DreamHost ($20/bulan), tapi tetap aku ambil paket Grid Server dari mereka. Sudah lama sebenarnya aku jatuh cinta dengan MediaTemple, karena tampilan situsnya yang sungguh menawan, tetapi dulu melihat harganya, aku langsung ciut. Tetapi sekarang beda dong hehehe…
Aku pun hosting di MediaTemple mulai bulan September 2008. Semua file di domain Malau.Net dan subdomain-nya aku angkut ke sana. Lancar, puas, tapi sedikit deg-deg-an juga. Karena mereka juga menerapkan pembatasan CPU. Istilah populernya bagi para pelanggan MediaTemple adalah GPU. Batasan GPU ini maksimal 1000/bulan. Untuk bulan pertama aku berhasil hanya menggunakan 500 GPU. Bulan kedua juga tidak terlalu banyak perubahan, 600 GPU. Nah, masuk bulan ketiga, baru saja 20 hari, tetapi sudah mencapai 1100 GPU.
Artinya aku harus membayar kelebihan 100 GPU ($0.1/GPU), sekitar $10.
TIDAK ADA PILIHAN LAIN selain pindah hosting, sebelum terkena biaya tambahan lebih mahal lagi!
Untuk yang pertama kalinya (semoga untuk yang terakhir kali), aku berjalan-jalan di Google dengan keyword “vps hosting review”. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihan jatuh ke SliceHost.com. Dengan biaya $38/bulan aku mendapatkan fitur VPS yang cukup lumayan, space 20GB, bandwidth 200GB, RAM 512MB, 1 dedicated IP address.
Hari ini tepatnya aku sedang melakukan transfer semua file dan database dari server MediaTemple ke server VPS yang baru. Mudah-mudahan semua lancar. ![]()
Oya, asyiknya server VPS di SliceHost ini, tidak ada Control Panel yang berbasis web, baik Plesk atau WHM, atau cPanel. Jadi semuanya harus diketik dari console linux. ![]()
Asyik kan, sekalian bisa mengeksplor lebih jauh lagi bagaimana administrasi sistem linux.
Oke, sekian dulu review hosting dariku. Semoga bermanfaat bagi semua blogger dan webmaster di Indonesia.

