Prosedur Pembuatan SIM di Samsat Daan Mogot

Setelah Irene membahas tentang proses penantiannya di ruang tunggu Samsat Daan Mogot, saya mencoba membahas lebih detil tentang prosedur pembuatan SIM baru.

1. Fotokopi KTP
Jika ingin membawa fotokopi KTP dari rumah bisa saja sebenarnya, tetapi kalau kelupaan anda bisa melakukannya di tempat pembuatan SIM. Satu lembar fotokopi KTP dibandrol Rp 500,-. Untuk keperluan mengurus SIM baru diperlukan 3 buah fotokopi KTP. Jadi…

Biaya: Rp 1.500,-

2. Tes Kesehatan
Serahkan fotokopi KTP selembar, kemudian masuk ke ruang periksa. Yang dilakukan di sini adalah pengujian mata, biasalah dengan melihat huruf-huruf dari jarak sekitar 2 meter dalam ukuran yang besar sampai kecil. Entah kenapa kok saya rasa tahap ini tidak terasa serius sedikitpun, terkesan hanya formalitas, bayangkan saja prosesnya hanya berlangsung 10 detik, hebat kan?? Setelah tahap ini saya disuruh menunggu dipanggil untuk ke tahap berikutnya.

Biaya: Rp 10.000,-

3. Asuransi Kecelakaan Diri Pengemudi
Cukup dengan mengisi formulir pendaftaran asuransi dan membayar sejumlah Rp 15.000,- maka tahap ini langsung selesai. Tahap ini bertujuan untuk mendapatkan asuransi kecelakaan senilai maksimum Rp 1.000.000,- dari perusahaan asuransi PT. ASURANSI BHAKTI BHAYANGKARA.

Biaya: 15.000,-

4. Administrasi SIM Baru
Tahap ini saya hanya membayarkan ke loket administrasi pembuatan SIM baru uang sebesar Rp 75.000,- ditambah Rp 1.000,- untuk bantuan sumbangan, tepatnya saya lupa untuk sumbangan apa :D

Biaya: Rp 76.000,-

Ujian Tertulis dan Praktek
Sebenarnya cukup hanya membayarkan Rp 10.000,- untuk administrasi di tahap ini, tapi yah maklumlah Indonesia adalah negara calo atau saya sebut saja negara kita ini Calonesia, cukup keren kan? Calo di Samsat Daan Mogot tidak hanya di luar yang berpakaian seperti preman, tetapi ternyata calo berseragam Polisi juga sangat banyak di bagian dalam, termasuk di loket untuk mengikuti ujian tertulis tersebut. Awalnya sih saya tidak bertanya macam-macam, sengaja untuk memancing si Pak Polisi… dan benar saja dia langsung berkata begini pada saat saya menyerahkan formulir aplikasi untuk pembuatan SIM baru, “Mau ngurus sendiri atau mau dibantu?” Dan inilah kata-kata sakti dari Pak Polisi.

Langsung saja aku tanya, “Berapa Pak kalo dibantu?”

Dan dia pun menjawab, “Tiga dua aja…”

“Tiga ratus dua puluh ribu Pak?”

“Iya…”

“Gak kurang lagi?”

“Nggak…”

Singkat kata aku pun akhirnya menawar sampai si Pak Polisi menurunkan tarifnya menjadi Rp 310.000,-.

Sulit memang hidup di negara Calonesia ini… mau menghindari percaloan malah ditodong oleh calo yang menjabat penegak hukum sekaligus. Seperti kata-kata sentilan dari seorang bapak di Samsat, “Untuk menghindari membayar ke Polisi Lalu Lintas kita harus membayar di sini…”

Aku jadi teringat pengalaman teman sekantor sewaktu dia mengurus SIM, dia ikut ujian tertulis sampai mengulang 2 kali tapi tetap hasilnya Tidak Lulus. Berdasarkan saran dia jugalah akhirnya aku memutuskan untuk ikut jalur percaloan itu… mau gimana lagi… tidak mungkin aku harus bolak-balik Serpong - Daan Mogot hanya untuk di-TidakLulus-kan, apalagi sampai berulang-ulang…

Akhirnya dengan mengisi lembar jawaban ujian tertulis secara acak (hebat, gak lihat soalnya tapi bisa menjawab, hehehe) dan mengikuti ujian praktek langsung… yang disederhanakan juga dengan membayar Rp 15.000,- ke si CS yang disuruh Pak Polisi 310 ribu untuk menuntunku ke tiap proses selanjutnya.

Biaya: Rp 335.000,-

Total Biaya: Rp 437.500,-

Jadi jika anda ingin mengurus SIM baru di Samsat Daan Mogot, mohon siapkan kocek sebesar total biaya di atas. Tapi jika anda ingin capek-capek bolak-balik dari rumah anda ke Daan Mogot 3 atau bahkan 4 kali (itu juga kalau langsung diluluskan pada kedatangan ke-4), ya cukup sediakan uang sekitar Rp 150.000,-

Mudah-mudahan informasi dari warga negara Calonesia ini bermanfaat.

Keindahan Tangan Ibu

Berbahagialah kamu yang masih memiliki Ibu, dan lakukanlah yang terbaik untuknya…

Ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu set gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai.

Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya. Read the rest of this entry »

27

27? Umur yang cukup rasanya untuk memiliki istri dan seorang anak. Setidaknya itulah yang terjadi pada beberapa teman seangkatanku di Teknik Mesin ITB (M’98). Tapi senang rasanya tidak lama lagi aku akan segera menyusul mereka… masih rencana sih, pastinya nanti diumumkan deh… hehehe…

Kalau melihat ke belakang rasanya gak banyak perubahan yang terjadi dalam jalur kehidupanku ini… dari dulu tetap seperti ini… perubahan yang banyak terjadi hanya di dalam dunia maya, tahun ini perkembangannya pesat, domain bertambah lagi, kesibukan ngurusin semuanya jadi makin padat, waktu online juga akhirnya jadi makin lama, untung juga di kantor akses internet lumayan cepat :D Read the rest of this entry »