Nasib Sial di Hari Senin
PUSPIPTEK, Senin, 24 September 2007 pukul 05.20 WIB
Handphone berdering dengan ringtone khas Sony Ericsson, aku angkat dan tertulis nama aD^_^ di layarnya…
Tuntutan agar mengantar si dia hampir saja gak berhasil dilakukan gara-gara malam sebelumnya tidur jam 12-an… nyaris bikin kecewa… buru-buru bangun, lihat jam, target berangkat 05.30, dengan modal sikat gigi doang aku langsung pakai jaket, sepatu kulit, masker alias sapu tangan buat penutup hidung, sarung tangan, dan tidak lupa pelindung dada serta helm merah kesayanganku… persis pakaian perlengkapan perang kalau kata mamakku… ![]()
Memang setiap hari Senin aku langganan jadi ojek pribadi si dia… karena hari Senin (dan hanya hari Senin) adalah hari di mana jalanan dari Bintaro ke Gatot Subroto paling dijejali kendaraan baik pribadi maupun umum. Entah kenapa hal ini bisa terjadi di kota Jakarta ini, suatu fenomena (atau resiko?) yang sudah dianggap biasa oleh penduduknya.
Singkat cerita, akupun berangkat dengan kecepatan tinggi dari mess tercinta nan sepi di Cisauk ke Bintaro… tepat 30 menit aku sudah sampai di Bintaro, cukup fenomenal, karena biasanya jarak dari mess ke Bintaro yang jauhnya kira-kira 25 km aku tempuh dalam waktu 45 menit. Mungkin karena masih pagi kali ya… jadi lalu lintas masih sepi.
Dengan sekali klakson pertanda aku sudah sampai, maka si dia pun keluar dari kamar kost-nya… dan kami pun berangkat ke Gatot Subroto, tepatnya ke gedung DJP.
Begitu kami sampai (hanya dalam waktu 45 menit), kami langsung memesan sarapan di sana… nasi plus sayur-sayuran sederhana yang cukup enaklah, walaupun sedikit mahal, maklum warung kaki lima-nya terletak di sebelah gedung DJP. Ah, akhirnya perut kenyang dan langsung siap-siap pulang kembali ke mess tercinta, kan belum mandi untuk berangkat ke kantor, hehehe.
Di sinilah kesialan dimulai…
Aku berangkat dari kantor DJP sekitar pukul 07.10 WIB, dengan kecepatan kurang lebih 60-70 km/jam, aku memacu Honda Supra 125X merah-ku menuju Serpong. Perjalanan sangat lancar karena aku melawan arus padat, menuju daerah sepi di pinggiran Jakarta Selatan sana.
Sekitar 50 menit kemudian aku sudah sampai di Pamulang… tepat di empang kecil dekat AHASS 1471 (Pamulang Jaya Motor), tiba-tiba dari bagian bawah motorku terdengar bunyi, “Krek!!!”. Kupikir… ah biasa, mungkin ada batu membentur rantai. Dengan spontan aku pun menurunkan kecepatan menjadi sekitar 30-40 km/jam. Sepuluh detik kemudian bagian bawah motorku berbunyi lagi, “”KREKK!!”. Dan kali ini lebih keras. Saat itu juga aku yakin kalau rantaiku bermasalah.
Beberapa detik kemudian rantaiku berbunyi lagi, “KREK, KREK!!!” dan rantaiku dengan suksesnya putus… tus… tus…
SIAL! Itulah yang pertama terpikir dalam benakku. Kenapa nggak? Rantai yang putus ini baru saja sebulan yang lalu aku beli lengkap 1 set dengan sproketnya di bengkel AHASS 1725 (Taruna Motor) di Jl. Raya Ceger No. 18, Pondok Aren, Tangerang.
Dengan segera aku meminggirkan motorku ke sebelah kiri, dan memasang motorku pada standar tegaknya. Kulihat rantai motorku yang sudah terlepas dari sproketnya. Melihat kondisi sekitar, ternyata ada bengkel AHASS yang baru kulewati sekitar 50 meter. Tapi apa sudah buka? Aku minta temanku yang baru saja datang karena kutelepon untuk memeriksa bengkel tersebut apakah sudah buka atau belum. Dan ternyata sudah buka, kami pun berangkat bersama ke sana, dia dengan motornya, aku menuntun motorku dengan rantai putusnya.
Setelah berkonsultasi dengan mekanik AHASS di sana, dan setelah berpikir berkali-kali, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti rantai rusak dengan yang baru.
Begitu rantai yang putus dibongkar, seorang mekanik di sana menunjukkan kalau pin rantai yang putus itu tidak original karena tidak berwarna kuning keemasan dan tidak ada logo AHM tercetak di sana. Ahh… sial, ternyata aku ditipu oleh AHASS 1725. Harga yang aku bayarkan ke AHASS 1725 untuk rantai baru yang putus itu juga sangat tidak bersaing dengan AHASS 1471, bandingkan saja Rp 190.000,- dengan Rp 150.000,- ini artinya aku sudah tertipu 2 kali oleh mereka, dibandrol harga tinggi untuk barang yang palsu. Ah… aku cuma bisa menenangkan hati supaya tidak emosi.
Lengkaplah sudah kesialanku di hari Senin ini…
Buat pemilik sepeda motor Honda, mohon berhati-hatilah menggunakan jasa AHASS di daerah anda, karena banyak oknum-oknum yang ingin cepat kaya dengan menghalalkan segala cara termasuk merugikan orang lain, mungkin juga anda bisa celaka dengan ulah mereka ini, coba saja dalam kasus aku tadi rantainya putus dan nyangkut di sproket roda belakang, akhirnya si roda pasti mengunci dan dengan otomatis terjadi pengereman mendadak yang bisa membuatku terlempar dari motor. Jadi mohon sekali lagi untuk waspada jika anda melakukan servis di AHASS, perhatikan betul-betul saat mekaniknya memegang motor anda. Tanya bila perlu apakah ada jaminan yang dapat mereka berikan untuk pelayanan yang telah mereka lakukan.
Dari kejadian-kejadian tersebut aku berpikir apakah ini saatnya aku bermigrasi ke Honda Tiger? Maybe someday when I have the money, hehehe… ![]()